Mimpi Bayangan Delusi

26.3.10


Gadis kecil itu sudah sampai di tempatmu, tempatku dulu, ---yang telah lama terlewat--- menjelma dalam sosok aku. Memandangi sekeliling tempat dulu kita pernah belajar serta diajar bersama. Memandangi satu persatu isi kelas yang tidak pernah berubah, hanya terasa sedikit lebih sempit dibanding dulu.
Dulu ia duduk di bangku tempatku terduduk, mendekap kertas ulangannya erat tanpa menyisakan celah untuk mengintip tinta merah yang tergores di salah satu sudutnya, sambil menunduk dengan pandangan penuh penyesalan dan kesedihan bagi anak sepertinya.
“Nilai kamu berapa?” tanya bocah laki-laki di sampingnya.
“Jelek,” sahutnya tanpa penjelasan.
“Sama. Aku juga jelek.”
Lalu gadis itu mengalihkan pandangan ingin tahu kepada bocah laki-laki.
“Delapan koma lima,” tambah si bocah laki-laki. Si gadis pun tersenyum nakal menunjukkan kertas ulangan matematikanya. Memamerkan nilai sembilan puluh lima yang tadinya takut tersaingi olah bocah pintar yang duduk sebangku dengannya. Dulu, yang telah lama terlewat.
“Tiga koma tiga sembilan,” sebuah suara menyambar kenanganku dari waktu dulu ke sekarang.
Aku menoleh. Bocah laki-laki itu.
“IP gue tiga koma tiga sembilan. Loe berapa?” Dean menjelaskan kepadaku dengan geram.
“Tiga koma empat tujuh,” aku menyebut angka yang lebih besar darinya, tapi aku tidak bisa tersenyum nakal seperti dulu menjawab tanyanya.
“Tetep ello yang menang. Ello bisa kuliah di universitas impian loe,” aku melanjutkan dalam sendu. Mengalihkan pandanganku ke kaki-kaki meja yang telah renta. Menangkupkan telapak tanganku ke salah satu sudut meja bergambar hati dengan tulisan ‘DA’ (Dirza love Ardean) di dalamnya. Sebuah gambar kecil yang tidak terlewat dari dulu sampai sekarang, seperti hatiku.
Dean mengambil tangan yang kutangkupkan. Meski kutahan tapi tanganku menurut dengan sendirinya. Seperti magnet yang menemukan kutub lawannya, tanganku menempel dalam genggamannya. “Dimanapun kita berpijak, bintang yang kita lihat tetap sama.”
Tiba-tiba kepalanya menyandar pada bahu sebelah kananku seperti biasanya yang sering ku lakukan dulu saat lelah. Aku merasa seperti disengat listrik sehingga tubuhku ringan serta hangat. Mendadak waktu berhenti enggan berputar untuk kami.
“Gue kangen sama masa kecil kita. Di saat semua jadi begitu mudah didapatkan,” ucapnya, yang kuiyakan dalam hati.
Aku juga rindu masa kecil kita. Masa kecil di saat semua begitu mudah membawaku bersamamu, tidak seperti sekarang.
Perlahan aku menyentuh wajahnya yang tenang memejamkan matanya. Wajahnya dingin dan keras seperti kaca, lalu tempat duduk kami pun terguncang.
Aku terbangun.
Kemudian menyadari bahwa aku masih berada dalam kereta api yang melaju serta berguncang keras dipercepat beraturan setelah kepalaku terantuk kaca yang kusandari untuk melepas lelah. Karena bahunya tidak ada untuk aku sandarkan, sekarang.
Ini sudah mimpi ke seratus empat puluh satu sejak Dean dan aku terpisah karena sekolah menengah atas kami yang tak lagi sama. Mimpi yang ke seratus empat puluh satu yang selalu menjadikan Dean sebagai pemeran utamanya. Mimpi yang ke seratus empat puluh satu dan belum termasuk mimpi sebelum aku memutuskan untuk menghitung mimpi yang terdapat Dean di dalamnya.
Mimpi yang keseratus empat puluh satu yang membuatku memutuskan untuk menjauh saja dari tempatnya, tempatku, tempat kami dulu. Meninggalkan ia, kenangan-kenangannya, cerita-ceritanya menjauh dalam gerak semu. Karena kutahu yang menjauh adalah diriku sendiri, mungkin ia juga. Namun kita tetap melihat yang lain menjauh. Mungkin Einstein memang menciptakan relativitas sebagai hukum perpisahan. Atau seperti Newton menemukan hukum gravitasi ketika sebuah apel terjatuh menimpa kepalanya. Einstein merumuskan relativitas karena perpisahannya dengan seseorang yang amat ia sayangi. Bahwa dalam perpisahan, baik yang diam ataupun bergerak, masing-masing melihat yang lain menjauh.
Perpisahan bersifat relatif. Gerak bersifat relatif. Begitupun waktu.
Tidak tahukah kamu, Dean? Aku sungguh ingin menghentikan semua dilatasi waktu ini. Agar bumi, langit, dan awan tetap disitu. Saat kamu disampingku.
Tapi semakin keras aku menentang relativitas, dilatasi, serta permutasi yang semakin menjauhkanku darimu. Semakin keras pula pada akhirnya aku terjatuh ke kenyataan. Bahwa kamu hanya bisa hadir dalam mimpi. Dalam bayangan. Dalam delusi. Dan aku sudah sangat ikhlas. Sudah sangat menyerah kepada Tuhan untuk memutuskan suatu hari kau akan hadir dalam nyata atau tidak.
Karena itu aku pergi ke ujung lain dari Pulau Jawa.
Aku menghempaskan bayangannya dari rembang malam yang kutatapi dari kaca jendela. Mengalihkan perhatianku dengan menyusup ke dunia maya. Membuka account facebookku.
Terdapat namanya di antara pemberitahuan baruku.
Dirza Yuanita : “Meski bumi yang kita pijak berbeda. Bintang yang kita lihat sama.”
Ardean Wijaya : “???”
Dirza Yuanita : “Karena cita-cita dan (semoga) cinta yang kita tuju sama.”
Ardean Wijaya : “Bukan semoga, tapi akan jadi nyata. Sedikit lagi.”
Aku tersenyum membaca komentar terakhir di statusku. Lalu aku pun mengetik pengganti rentetan komentar status antara aku dan dia. Sambil menunggu komentar pertama yang berasal darinya.
Dirza Yuanita : “Aku harap DA itu tidak hanya masih ada di bangku SD kita, tapi juga ada di hatimu.”


29 Januari 2010
She has been writing these story with criying in every word, every memory

Cerita sebelumnya

You Might Also Like

1 comments

Write your comments here