Berputar pada Orbitmu
1.4.13
Aku berjalan perlahan pada jalan setapak yang selalu kita lewati
sepulang sekolah. Menjejaki blok segi enam pada tanahnya, satu persatu. Mencoba
menghitung ulang jumlahnya sampai ke rumahmu. Seribu lima ratus enam hitungku
asal. Kau tahu, diam-diam aku tertawa melihatmu selalu percaya pada teori-teori
asalku.
Tepat di hadapanku sepasang bocah kecil melompat lompat pada
setiap bloknya. Kau ingat, dulu kita juga selalu melompat-lompat saling
mendahului mencapai blok paling depan.
Aku tadinya tertawa melihat si bocah laki-laki akhirnya terjatuh
di depanku. Tertinggalkan oleh si gadis yang telah melompat jauh. Tasnya jatuh
mengeluarkan isinya. Buku tulis. Buku Matematika. Dan buku bergambar bintang,
putri dan pangeran—yang sangat kita kenal.
Si gadis berbalik lari menghampiri temannya. "Kamu gakpapa,
De?" ia berlutut mencari luka temannya. Si bocah laki-laki menunduk
menutupi mukanya, entah malu entah menangis.
"Kamu pulang aja," suruhnya dalam isak menahan sakitnya.
Luka kecil tersumbul di lutut kanannya. Tapi si gadis tidak mendengarkan. Ia
terus disana memunguti buku temannya.
"Udah pulang ajah!!" usirnya lebih lantang. Kemudian,
setelah gadis itu tak terlihat, dengan memeluk lututnya ia mengeraskan
tangisannya.
Aku tergoda menghampirinya. Menasehatinya. "Jangan menangis.
Laki-laki tidak boleh menangis, apalagi di hadapan perempuan."
Tangisnya tak berhenti, hanya berubah jadi isakan-isakan kecil. Sambil
mengusap tangisnya, ia memunguti bukunya satu persatu. Menengadah memandangku
kosong, seakan pandangannya bisa menembusku untuk memandangi gadis itu.
Memastikan dia sudah pergi. Tak melihatnya menangis.
"Kamu jatuh, karena kamu tidak cukup kuat untuk melompat.
Berlatihlah agar bisa melompat setinggi ia!" Aku berteriak kepadanya yang
berlalu meninggalkanku dengan terpincang-pincang.
"Belajarlah agar bisa menangkapnya kapanpun ia
terjatuh," aku terduduk merunduk dalam sesalku. Ada sesak tiba-tiba dalam
nafasku. Bahkan sampai sekarangpun, aku tak bisa melompat setinggi ia.
"Kau tidak perlu menangkapku, Dean,” gadis kecil itu beralih
berjongkok memandangiku. “Aku tidak pernah melompat lebih tinggi darimu, tapi
aku melompat setinggi kamu. Aku tidak pernah berlari lebih cepat, aku berlari
mengejarmu. Aku memandangimu saat pandanganmu tertuju pada mimpimu yang tinggi."
Ia menggenggam tanganku, tangannya sudah lebih besar. Dari situ
aku tahu ia sekarang menjelma dalam bentuk kamu. "Aku selalu disini, Dean.
Aku planet yang selalu berputar pada orbitmu. Hanya saja kamu yang tak pernah
tahu, aku selalu disini, di hadapanmu."
Kau memelukku, Dirza. Aku memang tak pernah mau tahu, kau selalu
ada di hadapanku. Sejak Dean kecil terjatuh sampai sekarang. Kau menangis, aku
menangis. Dan dalam tangis itu, aku melihat Dirza kecil bersembunyi di ujung
jalan, memastikan Dean baik-baik saja dengan lukanya. Dan begitu terus sampai
dewasa, hanya saja Dean selalu tak mau tahu.
*****
“Jangan menangis,” Dirza menggumam, mengerjapkan mata yang ia
pejamkan sesaat. Air mata perlahan turun dari sudut-sudut matanya ke lantai
marmer yang dingin. Masih terbaring di tengah aula penuh cermin. Mengharapkan
seseorang memimpikannya, merindukannya. Seseorang yang jauh di seberang
samudra.
“Karena aku selalu di dekatmu, berputar pada orbitmu.”
April 1st 2013
Not because I hardly still
missing you, but because our memories was too beautiful

0 comments
Write your comments here