vo firena
16.5.09
Lana menangis sejadi-jadinya begitu memasuki salah satu kamar Rumah Sakit ternama di
Lana hanya bisa tersedu memegang tangan dingin Rengga. “Bangun, Ngga.”
“Lan,” Fisa yang tak kalah sedih datang memegang bahunya. “Loe pernah cerita, ketika loe nanya ke Rengga. ‘Kalo misalnya gue dikasih umur pendek, apa yang bakal loe lakuin buat gue?’
Dia pun menjawab, ‘Gue akan selalu jagain loe, berdo’a tiap waktu biar umur gue diambil semuanya buat nambahin sisa umur loe. Serta, gue akan berusaha apapun agar loe tetep bisa nemenin gue sepanjang umur gue…”
“Sekarang nggak ada lagi yang berdo’a agar umur gue bertambah panjang,” Lana merintih terisak.
“Mungkin yang harus berdo’a itu loe, sementara Rengga yang harus berjuang agar bisa nemenin loe sepanjang umur loe.”
Lana masih tersedu merengkuh pelukan Fisa. “Salah gue. Ini salah gue. Kenapa gue ga denger kata-kata loe? Kenapa gue malah percaya sama ‘iblis’ itu? Kenapa?”
“Yang salah itu gue, Lan. Gue,” ucap Fisa menghentikan semua kata ‘kenapa’ dari mulut Lana. Berusaha meyakinkannya, namun tak bisa.
Dan dua gadis itu tersedu.
Malam, beberapa jam sebelum kejadian itu. Handphone Lana berdering keras sekali, berulang-ulang namun tak lagi ia gubris. Alih-alih itu Fisa, dengan sejuta argumentasi, persuasi dan spekulasi buruknya tentang Vyon. Dan diujung deringan yang paling lama, Lana mengangkat handphonenya.
“Lan, apa sih kurangnya Rengga? Kok loe tega ninggalin dia demi cowo ingusan yang baru lewat di hidup loe!” Fisa menyambar tanpa titik.
“Kalo loe telpon gue cuma untuk ngejelek-jelekin Vyon. Mendingan loe gak usah nelpon gue SLAMANYA !”
“Loe gak tau yang sebenernya, Vyon itu...”
Klik. Sambungan Fisa ditutup sepihak.
Tiba-tiba suara petir bersamaan dengan mati lampu sedetik setelahnya memunculkan bayangan pria berpisau di jendela kamar Lana. Lampu menyala lagi. “Huh. Jadi ketularan paranoid Fisa,” lirih Lana kembali dihantui pernyataan Fisa tadi pagi.
“Sejak kapan Lan, loe jadi gak percaya gue!” tegas Fisa. “Tadi gue liat cowo’ itu megang pisau, dan mau nikam loe!”
“Sejak paranoid loe semakin keterlaluan!”
“Dia jelas-jelas terobsesi sama loe, Lan. Dan kalo sampai dia gak dapet apa yang dia mau, dia bisa ngelukain loe, atau Rengga!”
“See,” Lana berbisik menunjuk salah satu pisau bedah yang tergeletak di tengah meja lab biologi. “Vyon emang megang pisau, tapi bukan buat nikam gue.”
“Kalo emang Vyon mau nikam gue. Lalu gimana dengan yang lain yang ada dalam ruangan ini?” tambah Lana menyadarkannya bahwa mereka masih berada di tengah kelas Biologi mereka.
“Mereka gak akan bertahan. Mereka akan hancur dengan sendirinya,” Vyon melipat kedua tangannya seraya bersandar pada pintu kelas.
Fisa pun terhenti. Ia menoleh. “Loe pikir gue akan diem, dan gak akan berbuat apa-apa?”
“Buat apa?” singkat Vyon. “Rengga sendiri yang mutusin, kalo dia kalah race hari ini, Lana bakal ia lepas.”
Vyon tersenyum sinis. “Yang loe susah payah pertahanin, malah dipertaruhkan pemiliknya sendiri.”
Tanpa sadar, hati Lana memanas mendengarnya di sisi lain tembok.
“Gue kenal Lana dan Rengga lebih dari ello! Sekeras apapun usaha loe, loe gak akan pernah bisa menghapuskan rasa saying mereka yang begitu besar!”
“Pada akhirnya, Lana juga yang akan memilih siapa yang rasa sayangnya lebih besar.”
“Hah! Sayang? Yang loe rasain jauh berbeda dari sayang, itu cuma rasa ingin memiliki. Loe cuma terobsesi sama apa yang Rengga miliki, yang ello gak miliki,” bentak Fisa. “Atau, loe cuma terlalu bosen kalah dari Rengga,” tambahnya sebelum meninggalkan Vyon.
Cewe’ culas. Dia pikir, dia apa.
“Hey, Rengga,” sentak Vyon. “Loe sayang
Vyon mengejarnya. “Loe juga picik, Fis! Loe bukan mau pertahanin hubungan Rengga dan Lana. Loe lebih ingin dilihat Rengga sebagai pahlawan-nya!”
Lutut Fisa melemas. Mereka tertekuk jatuh di lantai tepat di hadapan Vyon. Fisa memohon. “Karena itu jangan sakiti mereka. Rengga gak akan bisa hidup tanpa Lana. Dan jangan buat Rengga bener-bener pergi tinggalin gue!”
“Bukan loe, Rengga ataupunLana yang bisa hapusin obsesi gue untuk selalu menang,” Vyon lalu berbalik acuh.
Plakkk... sebuah tamparan keras mendarat pada pipi sebelah kiri milik Rengga. “Aku bukan piala, Ngga!”
“A... apa…”
“Aku sayang sama kamu, Ngga. Dan itu bukan setahun atau dua tahun. Tapi kamu malah jadiin rasa sayang itu taruhan dan ajang pamer kehebatanmu!” sambar Lana sebelum Rengga sempat bertanya.
“Bukan seperti itu, Lan,” dipegangnya wajah cantik dihadapannya dengan kedua tangannya. Lana mengelaknya.
“Aku udah cukup kecewa sama kamu, Ngga. tapi kamu malah menjadi-jadi. kamu anggap aku ini apa?”
“Kamu nggak tau masalahnya, Lan!”
“Masalah apa Ngga yang membuat aku dan semuanya jadi gak berharga bagi kamu!” marah Lana. “Asal kamu tau, walaupun Vyon nggak berhasil ngalahin kamu, aku akan milih Vyon dibanding kamu!”
Fisa menutup handphone flip nya. Percuma, Lana benar-benar nggak mau dengar semua argumentasinya. “Urghhhh... padahal cuma loe yang bisa hhentiin semua, Lan. Cuma loe yang bisa selametin mereka, atau salah satu dari mereka.”
Fisa memegang keningnya, terduduk di sudut kamarnya. “Harus gimana lagi?”
Tiba-tiba ia menyambar kunci mobil dari meja kecil di sampingnya dan bergegas ke bawah. Ia membanting stirnya ngebut-ngebut ke salah satu jalan di tengah
“Lo liat Vyon? atau Rengga?” Tanya Fisa langsung pada ‘boss’ yang mengatur race disini.
“Gak,” ketus sang ‘boss’ mendengar nama dua orang yang buatnya rugi besar hari ini.
“Loe tau gak mereka kemana?”
“Mana gue tau! Mereka gak dateng sampai gue harus rugi besar!”
Tanpa banyak kata. ia membanting stirnya lagi. lebih kencang. namun belum genap ia sampai pada rumah besar di ujung jaan. dua orang pengendara motor berhambur keluar dari
Belum hilang rasa sakit di wajah Rengga, akibat pukulana keras pertama dari Vyon. “Ini karena loe gak penuhin janji loe, pengecut!”
Bugg... “Ini karena loe cuma bisa nyakitin orang-orang yang gue sayang!”
Bugg... “Ini karena loe satu-satunya penyebab nyokap gue meninggal.”
Tak tahan Rengga membaasnya. “Jangan menempatkan diri loe seakan-akan loe bukan adek kandung gue!” ia menarik ujung begian leher kaos hitam Vyon. “Nyokap loe nyokap gue juga! kehilangan loe kehilangan gue juga! jangan pernah ungkit masalah laen karena masalah sepele kita!” Rengga menghempasnya keras-keras.
“Sepele! Loe dan bokap loe udah bikin nyokap gue sakit sampe akhir hidupnya. Sekarang loe mau sakitin berapa orang lagi!”
“Loe bikin masalah berlarut-larut, brengsek!” umpat Renggga kesal sampai membenturkan Vyon ke sudut kamar Rengga. Rangga menyambar jaket di atas kasurnya, berlalu meninggalkannya.
Vyon mengelap darah dari sudut bibirnya. kmudian menyusul kakaknya.
Mobil Fisa melaju dipercepat beraturan mengejar dua motor yang sedang beradu cepat di depannya. Motor Rengga memimpin, sementara Vyon jauh di belakangnya. fisa tetap mengincar Vyon yang perlahan menggantikan posisi Rengga. fisa pun menyalip Rengga yang mulai tertinggal. Tak habis pikir, ia berancang-ancang menabrak Vyon. tapi posisi berbalik. rengga menyerempat Vyon hingga ia jatuh terhenti. Fisa hilang kendali, remnya blong. ia akhirnya menabrak pohon besar setelah membuat Rengga terlempar beberapa meter jauhnya. mobil Fisa terguling.
“Aouww...” ia berusaha keluar, namun kakinya terjepit tak bisa digerakkan. vyon berjalan mendekat, meraih lengannya. “Mau ngapain loe!” Vyon semakin keras menariknya. “Aouww, lepasin gue!” raungan, pukulan serta aduhan Fisa tak digubrisnya. ia malah lancing menggendong Fisa jauh-jauh dari mobilnya yang mulai berasap lalu meledak beberapa detik setelahnya.
“Rengga!” ia berontak lepas dari Vyon. berjalan tertatih-tatih bersikeras menola bantuan Vyon. vyon tetap di pendiriannya, meraih tangan Fisa dan memapahnya.
Rengga terkulai, darah mengucur deras dari kepalanya ketika Fisa membuka helmnya. seketika Fisa menangis memeluk orang yang disayangnya. “Rengggaaaaaaaaa...”
(dthra)
notes : alhamdulillah ...
bisa posting blog juga stelah berabad-abad lamanya .
fiuhhh... harap maklum kalo cerpennya ngaco.
maklum, bikinnya pasca ujian nasional. huhh...
enjoyy ^.~v

0 comments
Write your comments here